Pura Pura Amnesia

Manusia ga akan pernah lepas dari masalah (katanya). Sepanjang manusia itu hidup, masalah pasti muncul. Orang bilang ada dua cara untuk menyikapi suatu masalah. Cara pertama adalah dengan menghadapi masalah itu dan menyelesaikannya. Cara kedua adalah berlari dari masalah walaupun sebenarnya lari dari masalah ga akan menyelesaikan masalah itu. Menurut saya ada cara lain dalam menyikapi  masalah. Cara yang lebih gila dibanding cara pertama dan cara kedua. Cara yang ketiga adalah dengan pura pura amnesia. terdengar bodoh memang, tapi lucu.

Ya, pernah terlintas dalam pikiran liar saya untuk berpura pura amnesia. Inspirasi ini saya dapat setelah baca novel Forget About it karya Caprice Crane. Ceritanya ya gitu tentang seorang yang berusaha menjadi orang baru dengan berpura pura amnesia. Sekali lagi terdengar bodoh, ngawur, ngaco, tapi lucu. Crane memberi tahu saya bahwa di dunia ini ga ada yang namanya amnesia. Orang yang amnesia sebenarnya hanya berpura pura kehilangan ingatannya. And I believe in her. haha…

Entah kebetulan atau apa, tadi sore saya pun nonton pilem Jepang, Memoirs of A Teenage Amnesiac. Ceritanya lagi-lagi tentang amnesia.  Dengan cara menonton pilem itulah mungkin Tuhan memberi ‘izin’ kepada saya untuk berpura pura amnesia. Jika begitu, mungkin besok, atau besoknya, atau besoknya lagi saya akan menjalankan rencana gila ini, berpura pura amnesia

Budaya Copy Paste

Teknologi membuat sesuatu yang awalnya sulit menjadi mudah dikerjakan. Dampaknya, orang orang cenderung mau enaknya saja dan malas untuk bersusah payah dalam mengerjakan sesuatu. Contoh kecilnya adalah saat kita membuat sebuah tulisan. kadang kita mau tinggal enaknya nyalin tulisan orang lain tanpa mencantumkan sumbernya. Padahal orang yang membuat tulisan itu pasti menulisnya dengan susah payah.  Bukan mau sok suci atau apa, tapi akhir-akhir ini saya pun sadar bahwa menulis sesuatu terlebih itu sesuatu yang bermanfaat, bukanlah perkara yang mudah.  Lihat saja tulisan ini, strukturnya pun masih acak acakan. Ini membuktikan bahwa menulis memang tak gampang. Walaupun begitu, kita patut menghargai diri kita sendiri atas usaha yang telah kita lakukan dengan tidak mudah ini.

Negeri Mimpi

Taofik Sy

30 Maret 2012

 

Dengarkan aku berbicara

Tentang negeriku yang indah ini.

Negeriku bernama negeri mimpi

Seperti namanya negerinya, rakyatnya pun pandai bermimpi

Kami bermimpi menjadi negeri nomor satu

Nomor satu dalam hal apa saja,

Mulai dari nomor satu dalam bicara,

Nomor satu dalam menghayal,

Dan nomor satu dalam bermimpi tentunya.

 

Pekerjaan kami adalah bermimpi

Dari pagi sampai malam hari, kami terus bermimpi

Hidup kami adalah mimpi.

 

 

Kami adalah negeri yang kaya

Dari kecil kami sudah diajarkan bagaimana cara hidup orang kaya;

Boros, hura-hura adalah pendidikan utama kami.

Kami tak peduli terhadap orang susah. Toh kami sudah kaya.

Tuhan menciptakan kami untuk kaya

Ya kami kaya

Masa bodo dengan orang susah di sekitar.

Mereka miskin dan kami kaya.

Kadang kami bersenang senang dengan mereka.

Memberi recehan sambil menyeringai

Sungguh menyenangkan.

Mereka adalah mainan.

Negara kami adalah negara kaya.

Walau pendiri negara adalah maling, kami tetap saja kaya.

Lihatlah berita,

Lihatlah pemimpin kami

Mereka bicara, dan dapat uang.

Mereka tidur pun dapat uang.

Mereka menggoreskan coretan tangannya, juga dapat uang.

Alangkah enaknya memimpin bangsa ini.

 

 

Bagi kami, uang adalah raja.

Uang adalah segalanya

Orang melepas agama demi uang

Orang melepas kehormatan demi uang

Orang berjina juga demi uang.

Orang mengemis demi uang

Ah salah

Di negara kayaku, tak ada pengemis

Yang ada peminta-minta.

 

 

Julukan untuk negara kami adalah

Negeri sinetron.

Bukan karena tayangan tipi kami hanya sinetron.

Lihatlah di atas sana

Banyak orang bersandiwara.

Peran mereka berbeda beda.

Ada peran sebagai polisi

Coba tebak,

Nenekku kemarin membuat surat bebas mengemudi

Anehnya, dia lolos tes

Padahal nenekku buta huruf dan buta keseimbangan.

Untuk berdiri saja susah, apalagi untuk injak gas.

 

 

Kemarin aku pergi ke kota.

Dengan lima puluh saja, lampu merah bebas kutebas.

Keren bukan?

 

 

Ada pula yang berperan jadi anggota dewan.

Tidur di kursi empuk saat rapat dapat gaji.

Tak perlu pusingkan urusan rakyat.

Hebat bukan?

 

 

Namun ada satu adegan yang sama yang mereka perankan.

Berpura pura baik depan atasan

Supaya naik gaji atau pangkat

Padahal atasan mereka sama sama tukang pura pura.

 

 

Berpura pura membela rakyat,

Cerita lama.

 

 

Hobi kami adalah berpura-pura

Namanya juga negeri sinetron.

Berpura pura baik,

Berpura pura peduli,

Pura pura pintar.

 

 

Pemuda pemuda negara kami adalah pengekor yang hebat.

Kami dijuluki generasi anak ayam.

Ketika arus mengalir ke selatan, kami berlari berbondong menuju selatan

Ketika arus mengalir ke barat, semua sibuk pergi ke barat.

Aneh sekali jika ada orang yang tegar diam, bahkan melawan arus.

 

 

Soal berteriak, kami jagonya.

Hematlah energi, bumi makin panas.

Kalo bumi panas, badan jadi gerah.

Kalo badan gerah, tinggal pake pendingin ruangan.

Gerah hilang. Pintar bukan.

 

 

Hematlah energi, minyak bumi mahal.

Kalo minyak mahal, BBM naik.

Kalo BBM naik, rakyat miskin sengsara.

Di sana-lah kami kembali berpura pura peduli

Kalo BBM naik, kita demo saja.

Blokir jalan, bikin kemacetan di mana-mana

Rusak mobil-mobil yang melintas

Rusak sarana lalu lintas.

BBM tak jadi naik karena pemerintah kami memang pengecut.

BBM tak jadi naik, hanya saja masalah baru mucul.

Butuh biaya perbaikan sarana.

Kami memang pembuat masalah. Hebat bukan?

 

 

Di sekolah,

Kami diajarkan moral dan sopan santun.

Kami diajarkan ilmu kewarganegaraan.

Saat bel pulang, kami lupa pancasila itu ada berapa

 

 

Di sekolah, kami diajarkan menghafal

Menghafal apapun,

Apapun

Termasuk hal tak berguna.

Kami diajarkan menghafal.

Tak penting masalah pengamalan.

Yang penting hafal, dan kami jadi juara.

Juara konsep, hingga kami sangat pandai bicara.

Bicara memang lebih keren daripada bertindak.

 

 

Teori simpel dibikin serumit mungkin

Kan biar keren.

Kami diajarkan memecahkan masalah

Dengan konsep yang telah ada

Dengan konsep yang telah kami tulis.

Saat catatan kami hilang, tinggal nyontek catatan orang.

 

 

Ah

Memang seru membicarakan negeriku ini

Memang seru tinggal di negeriku ini.

Di sini kami tinggal bermimpi,

Di sini kami hanya butuh bicara

Di sini kamii hanya butuh kejelekan orang lain untuk tertawa

Di sini kami hanya butuh kekurangan orang lain untuk berbangga.

 

 

Bidadari Depan Pintu

“Assalamualaikum”, dengan lembut namun lantang sebuah suara muncul dari balik pintu depan rumahku. Aku yang sedang berada di ruangan tengah dengan malas terpaksa bangkit untuk melihat siapa yang datang.

“Alaikum salam,” jawabku sambil membuka pintu.

“Ibunya ada ?” kamu bertanya sambil sedikit tersenyum.  Amboy, senyumanmu yang indah langsung mempesonaku.

“Ah, ibunya tadi keluar, ga tau mau ke mana.  ada perlu apa?” sekuat tenaga aku berusaha untuk berbicara selancar mungkin.

“Itu, mau ngambil sepatu, tadi udah telfon sama ibu mau minjam.”
Aduhai, senyum indah itu kembali muncul.

“Sepatu yang mana ya? mungkin bisa dicarikan.”
Siaaal, kegugupanku tak bisa disembunyikan lagi.

“Sepatu buat acara besok.”
Perhatianku kini teralih pada ikat kepala biru yang menempel di rambut hitammu. Perwujudan sempurna dari perpaduan biru dan hitam

“Oh buat besok, kalo sepatu itu ga tau nyimpennya di mana.  Saya coba telefon ibu dulu deh ya. Mbak mau nunggu di dalem?”

“Ah ga usah, di sini aja.”
Aduhaai, senyum itu kembali muncul.

Aku masuk ke dalam rumah mencari telfon genggamku. Tombol angka 9 segera kutekan.  panggilan cepat langsung tersambung dengan nomor ibuku.

:”Iya a, ada apa?” terdengar suara dariseberang sana.

“Ini bu ada tamu.”

“Siapa?”

“Mbak Wewen, katanya mau ngambil sepatu buat besok”

“Oh, iya, ibu pulang sekarang”

Kata Pengantar

Dengan alasan dan dorongan untuk menyelesaikan tugas, saya akhirnya “memaksakan diri” untuk mengisi blog ini. Sebenernya males juga sih nulis di sini, soalnya di’luar’ juga udah punya akun yang lain. Masa harus repost lagi repost lagi, kan males. Tapi ternyata bukan hanya saya saja yang mendapat nasib serupa. Tadi pas buka home, banyak temen temen kelas yang juga udah mulai ngisi blog mereka. Minimal walau ngerasa males, kita gak males sendirian, hehe…

 

Sebenernya bingung mau nulis apa di blog ini. Mau nulis curahtan, saya ga bukan orang yang bisa terbuka masalah pribadi. Mau ngisi dengan tulisan copas, gak kreatif ah. Anak SD juga bisa kalo cuman Copas doang mah. Mau ngisi dengan tulisan sastra macam puisi dan cerpen, akhir akhir ini ispirasi saya sepertinya sedang liburan entah ke mana. Tapi yang namanya tugas harus diselesaikan tho, akhirnya saya memutuskan untuk ngisi blog ini dengan tulisan random, apa aja yang menurut saya pantas akan saya tulis di blog ini. Walau demikian, tak usah kuatir jika sudah ‘terlanjur’ membuka blog ini karena walaupun random bukan berarti asal asalan. So, enjoy your visit

-T-

Prlolog

Blog ini memang blog-nya mahasiswa Fakkulta Peternakan. Namun isinya bakal ngga melulu soal peternakan

Enjoy your visit

Enjoy your live…

Hello world!

Selamat datang di Blog Mahasiswa IPB. Ini adalah postingan pertamamu. Edit atau hapus postingan ini dan mulailah menulis blog sekarang juga!

Categories
Bookmarks